BIJI JUWET (Syzygium cumini [Linn. ] Skeels.) SEBAGAI ALTERNATIF OBAT DIABETES MELITUS

Semua sel di dalam tubuh membutuhkan energi untuk berfungsi secara normal.  Energi ini diperoleh dari makanan yang dimakan yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Setelah dicerna, terutama karbohidrat yang diperoleh dari serealia dan zat tepung (gandum, nasi, buah-buahan, dan sebagainya) diubah menjadi glukosa, atau gula sederhana. Glukosa ini adalah sumber utama energi bagi seluruh sel di dalam tubuh. Kelebihan glukosa disimpan di dalam hati dan otot-otot sebagai suatu senyawa lemak yang disebut glikogen.

Glukosa memasuki sel-sel melalui reseptor (penerima) yang merupakan protein pada permukaan sel. Semua hormon di dalam tubuh bisa bertindak pada sel target hanya setelah hormon melekatkan diri pada reseptor. Oleh karena itu, glukosa hanya bisa memasuki sel jika insulin merupakan suatu hormon yang melekatkan dirinya pada reseptor pada dinding sel. Ketika insulin kurang, tidak ada, atau abnormal, sulit bagi glukosa untuk memasuki sel dan menyediakan energi.

Selain membantu glukosa memasuki sel, insulin juga terlibat dalam penyimpanan glikogen di dalam hati dan otot-otot. Maka, hormon ini juga terlibat dalam penyimpanan energi cadangan. Di antara jam makan, ketika sel membutuhkan energi, glikogen akan diubah kembali menjadi glukosa dan digunakan oleh sel-sel tubuh.

Biasanya, pankreas melepaskan insulin dalam jumlah yang proposional dengan jumlah makan yang dikonsumsi. Sel-sel beta memonitor kadar gula dalam darah secara teratur dan melepaskan jumlah insulin yang digunakan untuk memproses glukosa di dalam darah. Pada diabetes, pankreas tidak memproduksi insulin, terlalu sedikit produksinya, atau memproduksi insulin yang cacat sehingga tidak dapat digunakan oleh tubuh. Oleh karena itu, gula darah tidak dapat digunakan secara efektif oleh sel-sel dan kelebihan glukosa tidak dapat disimpan di dalam hati.

Diabetes melitus (DM) yang lazim disebut kencing manis dan kini dikenal sebagai diabetes saja, berasal dari Yunani Kuno yang arti harfiahnya adalah to pass through [urine] yaitu terus mengalir, maksudnya adalah air dalam tubuh yang terus mengalir keluar dengan kata lain banyak buang air kecil. Sedangkan melitus berarti madu atau manis, pada umumnya urine penderita diabetes sering dikerumuni semut karena pemeriksaan di laboratorium menunjukkan kadar gula darah yang tinggi melebihi normal.

Diabetes merupakan penyakit kronis yang banyak menjangkiti manusia pada abad ini. Menurut penelitian WHO pada tahun 2000 diperkirakan 2,1% penduduk dunia menderita diabetes, sekitar 60% terdapat di Asia. Sedangkan data di Indonesia diperkirakan 1,2-2,3% jumlah penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas menderita diabetes. Diperkirakan pada tahun 2000 ada 8,4 juta penderita diabetes di Indonesia. Ini menempatkan Indonesia sebagai Negara ke-4 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Angka tersebut diketahui cenderung meningkat setiap tahun seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Yang jelas, disinyalir beberapa tahun terakhir ini terjadi peningkatan pasien diabetes pada usia di atas 45 tahun. Itu yang tercatat dari pasien diabetes yang datang berobat maupun yang tercatat tidak sengaja disebabkan pasien datang bukan dengan keluhan diabetes. Diperkirakan lebih banyak lagi (sekitar 50%) yang tidak tercatat karena tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut. Gejala penyakit diabetes memang tidak khas, sehingga sering kali terabaikan (Waluyo 2009: 3).

Peningkatan diabetes di Indonesia diperkirakan para ahli akan menjadi dua kali lipat pada tahun 2030.

Diabetes mempunyai tiga gejala utama, yaitu :meningkatnya rasa haus, meningkatnya rasa lapar, dan meningkatnya buang air kecil.

Diabetes adalah suatu kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar gula di dalam darah (hiperglisemia). Keadaan hiperglisemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. Efek penyakit ini menimbulkan kekhawatiran tentang menurunnya kualitas hidup. Siapa pun dapat terkena diabetes, tetapi hampir semuanya bisa menjalani hidup yang penuh aktif dengan pengendalian yang teratur terhadap makanan dan obat-obatan.

Ada dua jenis diabetes, yaitu: Tipe I atau insulin dependent diabetes, dan Tipe II atau non-insulin dependent diabetes. Sekitar 10% orang yang mengidap diabetes memiliki diabetes Tipe I atau diabetes yang bergantung pada insulin. Tubuh mereka tidak memproduksi insulin dan karenanya suntikan untuk memelihara gula darah yang normal. Sedangkan, sekitar 85% orang yang mengidap diabetes memiliki diabetes Tipe II atau diabetes yang tidak bergantung pada insulin. Tubuh mereka memproduksi sejumlah insulin, tetapi itu tidak mencukupi atau cacat (Ramaiah, 2003: 8-9).

Semua jenis diabetes melitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglisemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius pada umumnya disebabkan apabila kontrol kadar gula darah buruk atau kurang teratur.

Penyakit kencing manis atau diabetes melitus banyak diidap oleh orang Indonesia. Penderita diabetes melitus memiliki kadar gula dalam darah yang tinggi sehingga penderita harus hati-hati dalam menerapkan pola makan.Dokter pun sering menganjurkan agar penderita disiplin dalam mengonsumsi obat, berdiet, dan melakukan olah raga, serta menjauhi stress.
Banyak memang obat yang beredar di pasaran untuk mengobati diabetes
tersebut, namun sering harganya mahal, karena bahan-bahannya haruslah diimpor. Bagaimana mau menjauhi stress jika untuk membeli obat yang harganya mahal.
Beruntung, kini telah ditemukan obat yang murah meriah dan dapat diperoleh dengan mudah. Di pasar-pasar tradisional yang becek ketika hujan dan penuh debu saat musim kemarau, obat ini bisa dengan mudah didapatkan.

Juwet tergolong tumbuhan buah-buahan yang berasal dari Asia dan Australia tropik. Bisaa ditanam di pekarangan atau tumbuh liar, terutama di hutan jati. Juwet tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl. Pohon dengan tinggi 10-20 m ini berbatang tebal, tumbuhnya bengkok, dan bercabang banyak. Daun tunggal, tebal, tangkai daun 1-3,5 cm. Helaian daun lebar bulat memanjang atau bulat telur terbalik, pangkal lebar berbentuk baji, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas mengilap, panjang 7-16 cm, lebar 5-9 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk bentuk malai dengan cabang yang berjauhan, bunga duduk, tumbuh di ketiak daun dan di ujung percabangan, kelopak bentuk lonceng berwarna hijau muda, mahkota bentuk bulat telur, benang sari banyak, berwarna putih, dan baunya harum. Buahnya buah buni, lonjong, panjang 2-3 cm, masih muda hijau, setelah masak warnanya merah tua keunguan. Biji satu, bentuk lonjong, keras, warnanya putih. Berakar tunggang, bercabang-cabang, berwarna cokelat muda. Bisaanya, buah juwet yang masak dimakan segar. Rasanya agak asam dan sepat. Kulit kayu bisa digunakan sebagai zat pewarna.

Biji, daun dan kulit kayu juwet mempunyai khasiat menurunkan kadar gula darah (efek hipoglemik) pada penderita diabetes militus Tipe II. Juwet juga menurunkan resiko timbulnya atherosclerosis sampai 60-90 % pada penderita diabetes. Hal ini terjadi karena kandungan oleanolic acid pada juwet dapat menekan peran radikal bebas dalam pembentukan artherosclerosis. Praktisi Ayuredic melaporkan bahwa biji juwet menurunkan kadar gula dalam 24 jam.Hasil maksimum pencapaian efek hypoglemik dari juwet memerlukan sepuluh hari pengobatan .

Biji juwet mampu menyembuhkan gejala luka yang lama sembuhnya diduga glukosida phytomelin dalam biji juwet mampu mengurangi kerapuhan pembuluh-pembuluh darah kapiler, sehingga luka-luka yang ada bisa cepat sembuh, selain itu biji juwet juga bisa mengatasi gejala mudah lelah dan kurang tenaga.

Berdasarkan keterangan di atas biji buah juwet mengandung glukosida phytomelin sehingga dianggap mampu dimanfaatkan sebagai alternatif obat bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan uraian di atas, maka disusunlah karya tulis ini dengan judul “Biji Juwet (Syzygium cumini [Linn. ] Skeels.) sebagai Alternatif Obat Diabetes Melitus”.

Diabetes adalah suatu kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar gula di dalam darah (hiperglisemia). Keadaan hiperglisemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. Efek penyakit ini menimbulkan kekhawatiran tentang menurunnya kualitas hidup. Siapa pun dapat terkena diabetes, tetapi hampir semuanya bisa menjalani hidup yang penuh aktif dengan pengendalian yang teratur terhadap makanan dan obat-obatan.

Diabetes militus sangat tepat didefinisikan sebagai serangkaian gangguan atau sindroma dimana tubuh tidak mampu mengatur secara tepat pengolahan, atau metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Ini disebabkan oleh kekurangan baik sebagian maupun mutlak insulin hormon penting, yang dihasilkan dan dilepas oleh sel-sel khusus (dikenal sebagai sel-sel beta) yang terletak di bagian pankereas.

Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan untuk mengendalikan  penyakit diabetes adalah tanaman juwet. Juwet disebut juga Eugenia cumini Merr yang termasuk dalam divisi Supermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Miratales, familia Mirataceae (Hutapea, J.R, et al., 1994).

Kesimpulan yang didapat adalah : Biji juwet mampu menyembuhkan gejala luka yang lama sembuhnya diduga glukosida phytomelin dalam biji juwet mampu mengurangi kerapuhan pembuluh-pembuluh darah kapiler, sehingga luka-luka yang ada bisa cepat sembuh, selain itu biji juwet juga bisa mengatasi gejala mudah lelah dan kurang tenaga. Diduga alfa-phytosterol dalam biji itu yaitu sejenis sterol yang bersifat anticholesteremik mampu mencegah kelebihan kolesterol, kadar glukosa yang tinggi dalam darah penderita kencing manis, membuat kadar kolesterol yang masih rendah saja seperti kondisi parah seolah-olah darah itu sudah kebanyakan kolesterol, sehingga tugas darah terganggu. Cara meramu biji juwet ini agar dapat digunakan sebagai alternatif obat diabetes melitus dilakukan dengan cara: menyediakan 15 buah biji juwet, kemudian dikeringkan. Setelah itu biji yang sudah kering tersebut ditumbuk. Hasil tumbukan biji juwet tersebut bisa disimpan atau langsung diminum 2-3 kali sehari dengan cara direbus dengan 2 gelas air.

buat pembaca semua silahkan mencoba resep ini, semoga bermanfaat .

6 Comments Add yours

  1. Habib mengatakan:

    bgmn cra pengolahan agr jd obat?????

    1. fiqrotul mengatakan:

      Cara meramu biji juwet ini agar dapat digunakan sebagai alternatif obat diabetes melitus dilakukan dengan cara: menyediakan 15 buah biji juwet, kemudian dikeringkan. Setelah itu biji yang sudah kering tersebut ditumbuk. Hasil tumbukan biji juwet tersebut bisa disimpan atau langsung diminum 2-3 kali sehari dengan cara direbus dengan 2 gelas air.

      semoga cepat sembuh …🙂

  2. fauzi mengatakan:

    hmm..anak fisika kan??
    tp postingx kaya menjerumus ke biologi..keren😀 ^^b

  3. fiqrotul mengatakan:

    kq tw ??
    makasih ^^

  4. fauzi mengatakan:

    ituu tu..tau dari coment mu d beasiswa djarum tuu…
    kan nulis identitas kmu…hehehe😀
    AKu juga anak MIPA hehe..

    1. fiqrotul mengatakan:

      owh iya denk ,,,
      heeee🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s